K. H. R. Asnawi
K.H.R Asnawi adalah keturunan dari Sunan Kudus yang ke XIV dan keturunan ke lima dari K. H. A. Mutamakin. Wali pada zaman Sultan Agung Mataram di Kajen Margoyoso Pati. Wajar saja apabila yang dilaksanakan dia tidak jauh beda dari para pendahulunya. Baik dari pola pendidikan dan dimensi penegakan reputasi agama Islam.
Nama asli K. H. R. Asnawi adalah Ahmad Syamsi, kemudian berganti nama lagi menjadi Ilyas. Gelar raden yang juga disebut sebelum nama Asnawi mempunyai arti sendiri. Raden sebagaimana ditentukan oleh keluarga adalah sebutan dari anak turun (dzurriyah) Nabi Muhammad yang sudah terpotong oleh nasab puteri. Berbeda dengan sayyid, kalau sayyid semuanya sambung dari nabi hingga yang bersangkutan dari anak laki-laki.
Sedangkan panggilan kiai yang disematkan kepada dia lebih karena partisipasi dia dalam masyarakat. Ini setidaknya tampak dari dua sisi. Pertama, K. H. R. Asnawi memang seorang yang faqih dan benar-benar ahli dalam bidang agama. Ke dua, K. H. R. Asnawi adalah pemangku dan pengasuh pondok pesantren sebagai pemimpin agama. K. H. R. Asnawi tidak mau menjauh dari kebutuhan umat. Bahkan dia terkenal sangat memiliki sifat marhamah. Wibawanya besar, galak, keras dalam menetukan hukum, lebih-lebih terhadap anak-anak seusia 4-6 tahun.Dalam konteks mendidik ini pula Qudsiyyah didirikan. Gedung Madrasah Qudsiyyah yang didirikan K. H. R. Asnawi saat itu berada di Kompleks Masjid Al-Aqsha, tepatnya di depan gapura masuk Menara Kudus.
Nama Qudsiyyah diambil dari kata Quds yang berarti suci dan sekaligus nama kota tempat kelahiran madrasah tersebut. Nama tersebut digunakan dengan maksud agar apa yang diajarkan serta diamalkan dalam madrasah menjadi benar-benar suci dan murni tidak dicampuradukkan dengan yang kurang baik.Dalam perjalanan panjang tentang sejarah madrasah, kondisi madrasah pada masa penjajahan Belanda diurus oleh Departemen voor Inlandsche Zaken, sebuah departemen pengajaran agama di lembaga pendidikan Islam (pesantren dan madrasah). Namun, Madrasah Qudsiyyah tetap bertahan dan tidak terpengaruh dengan lembaga pemerintah Belanda tersebut. Justru K. H. R. Asnawi sering melakukan perlawanan terhadap kebijakan pemerintahan Belanda.
Hal ini terjadi lantaran pada praktiknya fungsi lembaga Belanda tersebut tidak menangani masalah pendidikan Islam dalam arti memfasilitasi, melainkan lebih merupakan sarana untuk mengontrol dan mengawasi lembaga-lembaga pendidikan yang ada. Oleh karenanya, pesan-pesan perjuangan melawan kolonialisme pada setiap kali dia mengajar di madrasah senantiasa disampaikan kepada santri-santrinya.
Boleh dibilang, K. H. R. Asnawi adalah benteng antipenjajah di semenanjung utara Jawa. Ketika dia melihat tekanan penjajah semakin kuat dalam membelenggu umat Islam, K. H. R. Asnawi tampil dengan jiwa kritisnya menyatakan amar ma'ruf nahi munkar. Segala hal yang dianggap menyimpang dari pemerintah Belanda dia berani mengkritik.Untuk menyatukan visi keiislamannya, K. H. R. Asnawi bergabung kembali dengan Serikat Islam Cabang Kudus. Jabatan komisaris bagi Asanawi sudah disandangnya ketika berdiri Serikat Islam Cabang Makkah tahun 1912 M. Aktivitasnya di Serikat Islam ini menjadikan dia akrab dengan Samaun dan H. Agus Salaim serta HOS Cokroaminoto.
Hingga tahun 1929 M, Madrasah Qudsiyyah dipimpin langsung oleh K. H. R. Asnawi sebagai kepala sekolah dan didampingi oleh K. H. Shafwan Duri. Pada tahun 1929 M-1935 M Madrasah Qudsiyyah dipimpin oleh K. Tamyiz sebagai kepala sekolah. K. H. R. Asnawi sendiri, memimpin pondok pesantren Raudlatuth Thalibin yang didirikan pada tahun 1927 M di Bendan, Kerjasan Kudus. Pada tahun 1935 M, K. R. Sujono memimpin Qudsiyyah sampai dengan tahun 1939 M. Setelah K.R. Sujono wafat, Madrasah Qudsiyyah kemudian dipimpin oleh K. H. abu amar mulai tahun 1939 M sampai tahun 1943 M.
sumber: Arsip madrasah qudsiyyah kudus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar